.

HARUSKAH ADA SELEKSI CALON KEPALA SEKOLAH?

Keefektifan  suatu sekolah dalam menggapai visi, mengemban misi, mencapai tujuan dan target, serta dalam menjalankan aktivitas pembelajaran mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang menampilkan kepemimpinan yang efektif. Kehadiran kepala sekolah yang efektif merupakan komponen organik, sebab bagaimanapun banyaknya sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sekolah, betapapun besarnya dana yang tersedia bagi pembiayaan operasional sekolah, dan betapapun banyaknya sumber daya manusia yang tersedia untuk mengoperasikan kegiatan sekolah, semuanya akan sia-sia belaka bilamana tidak didayagunakan secara efektif dan efisien oleh kepala sekolah bagi kepentingan pembelajaran, prestasi dan pertumbuhan siswa.

Lebih-lebih sejak tahun 2003 Pemerintah secara resmi memperkenalkan dan menggalakkan  manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Quality Improvement),  yang lebih dikenal dengan  manajemen berbasis sekolah (School Based Management). Bahkan telah ditegaskan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tepatnya pasal 51 ayat (1) bahwa Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) di sebuah sekolah menuntut adanya seorang kepala sekolah yang tidak saja memiliki kompetensi manajerial dan supervisi, melainkan juga kompetensi kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin satuan pendidikan, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah, dan memiliki naluri kewirausahaan dalam pengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar siswa.

Kepala sekolah sebagai faktor yang sangat menentukan (critical factor) kesusksesan peningkatan mutu sekolah dan keberhasilan sekolah secara keseluruhan  juga pernah disitir oleh Lunenburg (2010). Penelitian-penelitian di lapangan pun banyak menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif dari seorang kepala sekolah memiliki hubungan positif dan sangat signifikan atau berpengaruh kuat bagi prestasi siswa. Dengan kedudukannya yang begitu staretgisnya, kepala sekolah ditantang untuk mengupayakan kepemimpinan yang efektif. Lunenburg (2010) menegaskan bahwa tanggung jawab yang paling utama seorang kepala sekolah adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan kesuksesan semua peserta didik. “The principal’s primary responsibility is to promote the learning and success of all students,” demikian yang dikatakan oleh Lunenburg (2010). Keyakinan Lunenburg dapat dipahami, sebab fungsi utama sekolah adalah pembelajaran. Tidak ada kualitas sekolah tanpa kualitas pembelajaran, sehingga kualitas suatu sekolah diukur dari seberapa efektif sekolah tersebut dalam membelajarkan seluruh siswa. Bagi Lunenburg kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) Lebih lanjut Lunenburg menegaskan bahwa kepala sekolah adalah “orchestrators of excellence in teaching and student learning.” Sebagai seorang orkestrator memiliki peranan sangat penting dalam hal “assembles a group of talented musicians and melds their abilities into a virtuoso performance.” Demikian pula seorang kepala sekolah yang sukses mampu menyatukanpadukan (assembles) visi dan misi sekolah, kualitas guru, budaya dan iklim pembelajaran, dan segala komponen pendukung untuk ditransformasikan menjadi sebuah masyarakat pembelajaran (learning community) di mana di dalamnya seluruh pendidik dan tenaga kependidikan bersama siswa belajar dan meraih tujuan pembelajaran tingkat tinggi.

Berdasarkan rasional di atas, RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH memandang bahwa jabatan kepala sekolah harus dipangku oleh guru yang memiliki kompetensi kekepalasekolahan. Dengan kata lain, seorang guru yang akan diangkat menjadi kepala sekolah harus terlebih dahulu mengikuti program pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dan lulus dalam seleksi calon kepada sekolah. RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH telah mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dalam rangka menghantarkan  guru profesional menjadi kepala sekolah profesional. RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH juga telah mengembangkan seperangkat instrumen yang valid, reliabel dan lengkap untuk menguji kompetensi kekepalasekolahan calon kepala sekolah.

Silakan Memberikan Masukan Isi Halaman Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *