.

PENINGKATAN KOMPETENSI KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

Secara jujur kita harus mengakui bahwa pendidikan persekolahan di Indonesia banyak mengalami kemajuan. Namun secara jujur kita juga harus mengakui bahwa kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia masih belum sebagaimana diharapkan dan jauh di bawah standar kualitas pembelajaran yang tumbuh dan berkembang di sekolah-sekolah yang ada di negara-negara maju. Sejak kemerdekaannya, Indonesia memang telah mengalami kurang lebih sebelas kali perubahan kurikulum, namun kualitas pendidikan di Indonesia belum seperti yang diharapkan. Dalam bidang matematika, science, dan literasi, sekolah-sekolah Indonesia selalu menduduki posisi sebagai 5 negara terendah hasil Trends in International Mathematics and Science Study  (TIMSS), Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), dan Programme for International Student Assessment (PISA).

Banyak faktor penyebab kualitas sekolah-sekolah di Indonesia belum sebagaimana yang diharapkan. Namun satu faktor penyebab utamanya, yaitu sebagian besar kepemimpinan kepala sekolah di Indonesia kurang fokus pada aspek-aspek pembelajaran. Padahal sebaik apapun kurikulum yang diberlakukan di sekolah, implementasinya mempersyaratkan adanya seorang guru yang profesional sebagai orchestrator in teaching and learning process yang dipimpin oleh kepala sekolah sebagai conductor-nya. Tidak ada murid yang tidak dapat dididik, yang ada adalah guru yang tidak mampu mendidik, dan tidak ada guru yang tidak mampu mendidik, yang ada adalah kepala sekolah yang tidak mampu memimpin guru agar berbasil mendidik. . “… the quality of teaching and leraning that goes on in a school is largely determined by the quality of such leadership” (Adler, 1982)

Sungguh yang menjadi penyebab terbesar mengapa kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari sebagaimana yang diharapkan adalah kepala sekolah di Indonesia lebih memerankan sebagai sebagai administrator dan manager, ketimbang sebagai pemimpin pembelajaran. Seharusnya kepala sekokah memerankan diri sebagai pemimpin pembelajaran. Seharusnya kepala sekolah lebih konsentrasi kepada aspek-aspek pembelajaran dan menampilkan kepemimpinan pembelajaran.

  1. Substansi Lokakarya Kepemimpinan Pembelajaran.

Dalam rangka memecahkan persoalan besar di atas, alhamdulillah RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH telah berhasil mengembangkan sistem dan perangkat material lokakarya kepemimpinan pembelajaran. Substansi materi lokakarya tersebut meliputi (1) sekolah sebagai organisasi pembelajaran; (2) manajemen mutu terpadu berbasis pembelajaran; (3) kepala sekolah sekolah sebagai pemimpin pelajaran; (4) visi, kepemilikan, dan keterlibatan dalam peningkatan mutu sekolah secara terpadu; (5) membangun budaya belajar dan pembelajaran; (6) manajemen sumber daya sekolah yang efektif dan efisien bagi budaya belajar dan pembelajaran; dan (7) pelibatan pemangku kepentingan dalam peningkatan kualitas belajar dan pembelajaran.

2. Kurikulum, Silabus, dan Perangkat Material.

RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH telah mengembangkan kurikulum, silabus dan perangkat material lokakarya kepemimpinan pembelajaran dan siap digunakan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Yayasan Pendidikan, dan Lembaga Pendidikan dalam menghantarkan kepala sekolahnya mencapai kesuksesan besar dalam memimpin sekolahnya masing-masing.
Perangkat material tersebut dikembangkan dengan memegang teguh prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi). Bahan-bahan pelatihan disusun dengan merujuk kepada atau mengadaptasi dari praktik baik yang dilakukan oleh (1) Institut Aminuddin Baki (IAB) Malaysia sebagai Pusat Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah bertaraf internasional bagi kepala sekokah atau calon kepala sekolah di Malaysia; (2) Lembaga Pengembangsn dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Solo; (3) National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University ((NTU) Singapore: dan (4) lembaga-lembaga pelatihan di sejumlah universitas ternama di negara-negara maju.

3. Peserta Lokakarya.

Sasaran utama lokakarya ini adalah kepala sekolah pemula maupun kepala sekolah lama, namun idealnya lokakarya ini diikuti oleh kepala sekolah, pengawas pendidikan, dan minimal seorang guru potensial secara bersamaan. Dengan demikian, begitu selesai mengikuti lokakarya kepemimpinan, mereka bertiga bersatu menjadi instructional leadership team dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

4. Lama Lokakarya.

Lokakarya kepemimpinan pembelajaran dirancang utk 660 Jam selama 11 minggu atau 66 hari efektif, dimana setiap hari dijadwalkan 10 jam efektif lokakarya. Rinciannya sebagai berikut:
a. Sekolah sebagai organisasi pembelajaran (In-service Workshop, 60 jam)
b. Manajemen mutu terpadu berbasis pembelajaran (In-service Wokshop, 60 jam)
c. Kepala sekolah sekolah sebagai pemimpin pelajaran (In-sevice Workshop, 60 jam)
d. Visi, kepemilikan, keterlibatan peningkatan mutu (In-service Workshop, 60 jam)
e. Membangun budaya pembelajaran (In-on-in Service Workshop, 180 jam)
f.  Manajemen sumber daya sekolah (In-on-in Service Workshop, 180 jam)
g. Pelibatan pemangku kepentingan (In-service Workshop, 60 jam)
Kegiatan workshop tersebut yang terdiri dari 7 substansi dapat dilakukan secara bertahap dalam 7 kali workshop, namum peserta disarankan mengikuti secara berkelanjutan.

5. Pendanaan
RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH siap membantu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Yayasan Pendidikan, dan Lembaga Pendidikan menyelenggarakan lokakarya kepemimpinan pembelajaran dengan dua pola pendanaan. Pertama, dengan sistem kontraktual, dimana atas dasar kontrak terlebih dahulu antara Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Yayasan Pendidikan, dan Lembaga Pendidikan dengan RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH. Kedua, dengan sistem swaklola, dimana semua pendanaan dikelola sendiri oleh Dinas Kabupaten/Kota, Yayasan Pendidikan, dan Lembaga Pendidikan,  sedangkan RUMAH VISI KEPALA SEKOLAH menyiapkan seluruh perangkat material lokakarya, instrumen tes awal dan tes akhir, sejumlah nara sumber lokakarya yang profesional, 1 orang tenaga ahli instrumentasi, dan 1 atau 2 orang tenaga teknis.
Kompenen-komponen pembiayaan mencakup: (1) biaya instrumentasi, (2) biaya entri dan analisis data, (3) honorarium tim ahli dan tim teknis, (4) honorarium nara sumberr’ (5) biaya transport, akomudasi dan konsumsi, dan (6) pajak dan panitia lokal.

Silakan Memberikan Masukan Isi Halaman Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *